LAPORAN PRAKTIKUM MINGGU KE – 7
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
PENGAMATAN MUSUH ALAMI HAMA
KELOMPOK 3
Disusun oleh:
Fildzah Jamalina (A34080059)
Dosen pengajar :
Dr.Ir Nina Maryana, M.Sc
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
BAB I
PENDAHULUAN
- 1. Latar Belakang
Hama adalah makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar penyakit, dan pengganggu semua sumber daya yang dibutuhkan manusia. Definisi hama bersifat relatif dan sangat antroposentrik berdasarkan pada estetika, ekonomi, dan kesejahteraan pribadi yang dibentuk oleh bias budaya dan pengalaman pribadi.
Musuh alami adalah organism yang ditemukan di alam yang dapat membunuh serangga sekaligus, melemahkan serangga, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada serangga, dan mengurangi fase reproduktif dari serangga. Musuh alam biasanya mengurangi jumlah populasi serangga, inang atau pemangsa, dengan memakan individu serangga.
Untuk beberapa spesies, musuh alami merupakan kekuatan utama yang mengatur dinamika populasi serangga, sehingga penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana musuh alami dapat mempengaruhi populasi serangga untuk mengestimasi pengaruhnya. Untuk menjelaskan kepadatan populasi serangga dan memprediksi terjadinya outbreaks.
Secara umum, pemangsa didefinisikan sebagai makhluk hidup yang memakan makhluk hidup lainnya. Pemangsaan merupakan suatu cara hidup yang sumber makanannya diperoleh dengan menangkap, membunuh, dan memakan hewan lain.
Karakteristik umum serangga pemangsa:
a. mengkonsumsi banyak individu mangsa selama hidupnya,
b. umumnya berukuran sebesar atau relatif lebih besar daripada mangsanya,
c. menjadi pemangsa ketika sebagai larva/nimfa, dewasa (jantan dan betina), atau keduanya,
d. pemangsa menyerang mangsa dari semua tahap perkembangan,
e. biasanya hidup bebas dan selalu bergerak,
f. mangsa biasanya dimakan langsung,
g. biasanya bersifat generalis,
h. seringkali memiliki cara khusus untuk menangkap dan menaklukkan mangsanya.
Secara tradisional perilaku pemilihan mangsa atau inang dibagi menjadi empat komponen yang sering kali digabungkan bersama, yaitu penentuan lokasi habitat mangsa, penentuan lokasi mangsa, penerimaan mangsa, dan kesesuaian hama. Dalam proses pemilihan mangsa, umumnya pemangsa menggunakan kombinasi pertanda fisik (penglihatan dan sentuhan) dan pertanda kimiawi (bau dan rasa).
Tipe mangsa yang dimakan oleh pemangsa merupakan interaksi dari berberapa faktor (fisiologi, perilaku, dan ekologi), yaitu:
a. ketersediaan/kelimpahan relatif dari tipe mangsa yang khusus,
b. perilaku pemangsa dalam mencari makan,
c. kesesuaian nutrisi mangsa, dan
d. risiko pemangsaan yang berasosiasi dengan upaya dalam memperoleh mangsa.Kecuali keempat faktor di atas, perilaku oviposisi betina berperan penting dalam menentukan mangsa yang tersedia untuk larvanya.
2. Tujuan
AdapunTujuan dalam praktikum kali ini adalah untuk mengamati parasitoid yang hidup pada beberapa inang di lapang. Selain itu untuk mengetahui parasitasi terhadap inanyanya.
BAB II
BAHAN DAN METODE
- 1. Bahan
Bahan yang akan digunakan adalah larva/pupa penggulung daun pisang, larva/pupa Nymphalidae pada tanaman daun kuning, larva/pupa lalat buah pada belimbing, larva/pupa pada tanaman jambu bol, larva/ pupa pada tanaman pisang, mahkota dewa. Adapun alat yang digunakan adalah tabung film dengan alcohol, aspirator, kwas kecil dan label.
- 2. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum musuh alami hama ini adalah tahap pertama mengambil dan memasukan serangga inang yang masih pradewasa pada berbagai tanaman inang kedalam kantung plastic. Bila serangga masih larva maka diambil makanannya untuk pemeliharaannya di laboratorium. Tahap kedua yaitu mengumpulkan serangga inang untuk setiap grup minimal 10-15 untuk kelompok pengamatan larva/pupa Nymphalidae, untuk kelompok lain minimum 50 larva atau pupa.
Setelah itu tahap selanjutnya adalah di laboratorium, memindahkan serangga inang kewadah plastic berkasa, Wadah diberi label dan memelihara inang hingga imago hama dan parasitoid keluar. Selanjutnya melakuakn pengamatan setiap hari meliputi: kapan iamago hama dan parasitoid keluar, berupa jumlah imago hama atau parasitoid yang keluar tersebut.
Setelah itu tentukan apakah parasitoid bersifat soliter (satu parasiroid perinang) atau gregaria (lebih dari satu parasitoid perinang). Khusus untuk parasitoid lalat buah, diasumsikan parasitoid bersifat soliter. Tahap selanjutnya mengamati parasitod yang keluar dan mengidentifikasi hingga family dengan acuan buku kunci identifikasi atau dapan menanyakan kepada asisten atau dosen.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
- 1. HASIL
- Data Pengamatan Musuh Alami
- Data Kelompok
| No | Nama Parasitoid | Jumlah parasitoid | Jumlah inang |
| 1 |
|
3 | 16 |
| 2 |
|
3 | 15 |
| 3 |
|
3 | 17 |
| 4 |
|
3 | 19 |
| 5 |
|
5 | 19 |
- Data Semua kelompok
| Kelompok | Tanaman | Inang | Tingkat Parasitasi | Parasitoid yang keluar |
| 1 | Jambu bol | Pagodiella hekmeyeri | 18% |
|
| 2 | Mahkota dewa | Psychidae | 13,3% |
|
| 3 | Tanaman Daun Kuning | Nymphalidae | 20% |
|
| 4 | Jambu biji | Atellabidae | 13,1% |
|
| 5 | Pisang | Erionota thrax | 25% |
|
| 6 | Belimbing | Bractosea sp. | 10% |
|
| 7 | - | - | - | - |
- 2. Perhitungan
- Jumlah inang terparasit
Tingkat Parasititasi = x 100%
= x 100% = 20%
- Literatur gambar parasitoid
Chalcadidae Brachonidae
- 3. Pembahasan
Parasit adalah organism yang hidup menumpang pada inangnya yang berukuran lebih besar. Parasit mengambil makanan dari tubuh inangnya, parasit juga dapat melemahkan inangnya dan membunuh inangnya.
Parasitoid adalah serangga yang memparasitisasi serangga atau arhtropoda lainnya. Biasanya bersifat parasitic pada fase larva dan hidup bebas ketika memasuki fase dewasa. Pada umumnya, parasitoid membunuh inang, namun dalam beberapa keadaan, inang bisa hidup dulu sebelum mengalami kematian.
6 ordo serangga (86 families) berpotensi sebagai parasitoid :
- Coleoptera
- Diptera (Tachinidae)
- Hymenoptera (Ichneumonidae, Braconidae dan Chalcidoidae)
- Lepidoptera
- Neuropteran
- Strepsiptera
Parasitoid juga melakukan penetrasi pada dinding tubuh dan bertelur di dalam tubuh inang atau meletakkan telurnya di luar tubuh inang. Kemudian dari telur tersebut menetas larva yang kemudian menetas dalam tubuh inang.
Pada praktikum musuh alami ini kelompok kami mengamati inang Nymphalidae pada tanaman daun kuning yang terdapat disekitar area kampus. Setelah mengamati selama beberapa minggu telah terlihat parasitoid yang keluar dari tubuh inangnya. Parasitoid yang muncul pada inag nymphalidae adalah Brachonidae dan Chalcididae. Pada percobaan satu terdapat parasitoid dengan jumlah 3, pada percobaan dua yaitu 3, percobaan tiga berjumlah 3, percobaan empat berjumlah 3 dan percobaan lima terdapat 5 parasitoid. Total seluruh parasitoid yang telah diamati adalah 17.
Setelah diketahui jumlah parasitoid dapat diketahui tingkat parasitasnya, pada kelompok kami tingkat parasitasnya adalah 20% . Untuk parasitoid Chalcadidae bersifat soliter karena dalam inang terdapat hanya satu parasitoid sedangkan untuk Brachinidae bersifat gregarious karena dalam satu inang dapat terlihat beberapa parasitoid.
Sedangkan pada kelompok yang lain mengamati tanaman yang berbeda, pada ke lompok satu yaitu mengamati tanaman jambu dengan inang Pagodiella hekmeyeri terdapat bebeberapa parasitoid yang berasal dari coccinellidae, Ichneumunidae, Arachnidae, Brachonidae, dan Formicidae dengan tingkat parasitasinya adalah 18%.
Kelompok dua melakukan pengamatan pada tumbuhan Mahkota Dewa dengan menggunakan larva Psychidae diperoleh parasitoid Ichneumunidae dengan tingkat parasitasinya adalah 13,3%.
Kelompok empat melakukan pengamatan pada tanaman jambu biji dengan inangnya adalah Atellabidae diperoleh parasitoid yang muncul adalah Thipiidae dengan parasitasinya adalah 13,1% dan sifat parasitoidnya adalah soliter.
Kelompok lima melakukan pengamatan padsa tanaman pisang dengan larva Erionota thrax diperoleh parasitoid yang muncul adalah Chaladidae, Brachonidae, pengurai dermaptera, dengan parasitasnya adalah 25%.
Pada kelompok enam melakukan pengamatan pada tanaman belimbing dengan larva Bactrocera sp. Dengan parasitoid yang muncul adalah Brachonidae, Tipulidae, dan Tephritidae dengan parasitasinya adalah 10%.
Terakhir adalah kelompok tujuh. Pada keompok ini tidak terlihat adanya inang yang terparasit. Hal ini terjadi karena lingkungan yang kurang mendukung parasitoid untuk masuk pada tumbuh inang.
BAB IV
KESIMPULAN
Kisaran inang parasitoid adalah semua jenis inang yang diserang sehingga parasitoid berhasil memperoleh keturunannya. parasitoid mempunyai beberapa istilah yaitu, generalis (polifagus), dan spesialis (oligofagus atau monofagus). Menurut pergerakannya, parasitoid dapat bersifat soliter atau gregarious. Pada masing-masing inang memiliki tingkat parasitasi yang berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA
[Anonim] file:///E:/Musuh Alami pada Serangga « Hadianiarrahmi’s Blog.htm (04 Mei 2010)
[Anonim] http://flickr.com/photos/37836402@N00/449612065/ (03 Mei 2010).
[Anonim] http://www.sbnature.org/collections/invert/entom/COP/COPwasps.php (04 Mei 2010).
[Anonim] file:///E:/Menggunakan Serangga Pemangsa dan parasitoid sebagai Pengendalian Hama « CARI ILMU ONLINE BORNEO.htm (04 mei 2010).
LAPORAN PRAKTIKUM MINGGU KE – 7
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
PENGAMATAN MUSUH ALAMI HAMA
KELOMPOK 3
Disusun oleh:
Fildzah Jamalina (A34080059)
Dosen pengajar :
Dr.Ir Nina Maryana, M.Sc
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
BAB I
PENDAHULUAN
- 1. Latar Belakang
Hama adalah makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar penyakit, dan pengganggu semua sumber daya yang dibutuhkan manusia. Definisi hama bersifat relatif dan sangat antroposentrik berdasarkan pada estetika, ekonomi, dan kesejahteraan pribadi yang dibentuk oleh bias budaya dan pengalaman pribadi.
Musuh alami adalah organism yang ditemukan di alam yang dapat membunuh serangga sekaligus, melemahkan serangga, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada serangga, dan mengurangi fase reproduktif dari serangga. Musuh alam biasanya mengurangi jumlah populasi serangga, inang atau pemangsa, dengan memakan individu serangga.
Untuk beberapa spesies, musuh alami merupakan kekuatan utama yang mengatur dinamika populasi serangga, sehingga penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana musuh alami dapat mempengaruhi populasi serangga untuk mengestimasi pengaruhnya. Untuk menjelaskan kepadatan populasi serangga dan memprediksi terjadinya outbreaks.
Secara umum, pemangsa didefinisikan sebagai makhluk hidup yang memakan makhluk hidup lainnya. Pemangsaan merupakan suatu cara hidup yang sumber makanannya diperoleh dengan menangkap, membunuh, dan memakan hewan lain.
Karakteristik umum serangga pemangsa:
a. mengkonsumsi banyak individu mangsa selama hidupnya,
b. umumnya berukuran sebesar atau relatif lebih besar daripada mangsanya,
c. menjadi pemangsa ketika sebagai larva/nimfa, dewasa (jantan dan betina), atau keduanya,
d. pemangsa menyerang mangsa dari semua tahap perkembangan,
e. biasanya hidup bebas dan selalu bergerak,
f. mangsa biasanya dimakan langsung,
g. biasanya bersifat generalis,
h. seringkali memiliki cara khusus untuk menangkap dan menaklukkan mangsanya.
Secara tradisional perilaku pemilihan mangsa atau inang dibagi menjadi empat komponen yang sering kali digabungkan bersama, yaitu penentuan lokasi habitat mangsa, penentuan lokasi mangsa, penerimaan mangsa, dan kesesuaian hama. Dalam proses pemilihan mangsa, umumnya pemangsa menggunakan kombinasi pertanda fisik (penglihatan dan sentuhan) dan pertanda kimiawi (bau dan rasa).
Tipe mangsa yang dimakan oleh pemangsa merupakan interaksi dari berberapa faktor (fisiologi, perilaku, dan ekologi), yaitu:
a. ketersediaan/kelimpahan relatif dari tipe mangsa yang khusus,
b. perilaku pemangsa dalam mencari makan,
c. kesesuaian nutrisi mangsa, dan
d. risiko pemangsaan yang berasosiasi dengan upaya dalam memperoleh mangsa.Kecuali keempat faktor di atas, perilaku oviposisi betina berperan penting dalam menentukan mangsa yang tersedia untuk larvanya.
2. Tujuan
AdapunTujuan dalam praktikum kali ini adalah untuk mengamati parasitoid yang hidup pada beberapa inang di lapang. Selain itu untuk mengetahui parasitasi terhadap inanyanya.
BAB II
BAHAN DAN METODE
- 1. Bahan
Bahan yang akan digunakan adalah larva/pupa penggulung daun pisang, larva/pupa Nymphalidae pada tanaman daun kuning, larva/pupa lalat buah pada belimbing, larva/pupa pada tanaman jambu bol, larva/ pupa pada tanaman pisang, mahkota dewa. Adapun alat yang digunakan adalah tabung film dengan alcohol, aspirator, kwas kecil dan label.
- 2. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum musuh alami hama ini adalah tahap pertama mengambil dan memasukan serangga inang yang masih pradewasa pada berbagai tanaman inang kedalam kantung plastic. Bila serangga masih larva maka diambil makanannya untuk pemeliharaannya di laboratorium. Tahap kedua yaitu mengumpulkan serangga inang untuk setiap grup minimal 10-15 untuk kelompok pengamatan larva/pupa Nymphalidae, untuk kelompok lain minimum 50 larva atau pupa.
Setelah itu tahap selanjutnya adalah di laboratorium, memindahkan serangga inang kewadah plastic berkasa, Wadah diberi label dan memelihara inang hingga imago hama dan parasitoid keluar. Selanjutnya melakuakn pengamatan setiap hari meliputi: kapan iamago hama dan parasitoid keluar, berupa jumlah imago hama atau parasitoid yang keluar tersebut.
Setelah itu tentukan apakah parasitoid bersifat soliter (satu parasiroid perinang) atau gregaria (lebih dari satu parasitoid perinang). Khusus untuk parasitoid lalat buah, diasumsikan parasitoid bersifat soliter. Tahap selanjutnya mengamati parasitod yang keluar dan mengidentifikasi hingga family dengan acuan buku kunci identifikasi atau dapan menanyakan kepada asisten atau dosen.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
- 1. HASIL
- Data Pengamatan Musuh Alami
- Data Kelompok
| No | Nama Parasitoid | Jumlah parasitoid | Jumlah inang |
| 1 |
|
3 | 16 |
| 2 |
|
3 | 15 |
| 3 |
|
3 | 17 |
| 4 |
|
3 | 19 |
| 5 |
|
5 | 19 |
- Data Semua kelompok
| Kelompok | Tanaman | Inang | Tingkat Parasitasi | Parasitoid yang keluar |
| 1 | Jambu bol | Pagodiella hekmeyeri | 18% |
|
| 2 | Mahkota dewa | Psychidae | 13,3% |
|
| 3 | Tanaman Daun Kuning | Nymphalidae | 20% |
|
| 4 | Jambu biji | Atellabidae | 13,1% |
|
| 5 | Pisang | Erionota thrax | 25% |
|
| 6 | Belimbing | Bractosea sp. | 10% |
|
| 7 | - | - | - | - |
- 2. Perhitungan
- Jumlah inang terparasit
Tingkat Parasititasi = x 100%
= x 100% = 20%
- Literatur gambar parasitoid
Chalcadidae Brachonidae
- 3. Pembahasan
Parasit adalah organism yang hidup menumpang pada inangnya yang berukuran lebih besar. Parasit mengambil makanan dari tubuh inangnya, parasit juga dapat melemahkan inangnya dan membunuh inangnya.
Parasitoid adalah serangga yang memparasitisasi serangga atau arhtropoda lainnya. Biasanya bersifat parasitic pada fase larva dan hidup bebas ketika memasuki fase dewasa. Pada umumnya, parasitoid membunuh inang, namun dalam beberapa keadaan, inang bisa hidup dulu sebelum mengalami kematian.
6 ordo serangga (86 families) berpotensi sebagai parasitoid :
- Coleoptera
- Diptera (Tachinidae)
- Hymenoptera (Ichneumonidae, Braconidae dan Chalcidoidae)
- Lepidoptera
- Neuropteran
- Strepsiptera
Parasitoid juga melakukan penetrasi pada dinding tubuh dan bertelur di dalam tubuh inang atau meletakkan telurnya di luar tubuh inang. Kemudian dari telur tersebut menetas larva yang kemudian menetas dalam tubuh inang.
Pada praktikum musuh alami ini kelompok kami mengamati inang Nymphalidae pada tanaman daun kuning yang terdapat disekitar area kampus. Setelah mengamati selama beberapa minggu telah terlihat parasitoid yang keluar dari tubuh inangnya. Parasitoid yang muncul pada inag nymphalidae adalah Brachonidae dan Chalcididae. Pada percobaan satu terdapat parasitoid dengan jumlah 3, pada percobaan dua yaitu 3, percobaan tiga berjumlah 3, percobaan empat berjumlah 3 dan percobaan lima terdapat 5 parasitoid. Total seluruh parasitoid yang telah diamati adalah 17.
Setelah diketahui jumlah parasitoid dapat diketahui tingkat parasitasnya, pada kelompok kami tingkat parasitasnya adalah 20% . Untuk parasitoid Chalcadidae bersifat soliter karena dalam inang terdapat hanya satu parasitoid sedangkan untuk Brachinidae bersifat gregarious karena dalam satu inang dapat terlihat beberapa parasitoid.
Sedangkan pada kelompok yang lain mengamati tanaman yang berbeda, pada ke lompok satu yaitu mengamati tanaman jambu dengan inang Pagodiella hekmeyeri terdapat bebeberapa parasitoid yang berasal dari coccinellidae, Ichneumunidae, Arachnidae, Brachonidae, dan Formicidae dengan tingkat parasitasinya adalah 18%.
Kelompok dua melakukan pengamatan pada tumbuhan Mahkota Dewa dengan menggunakan larva Psychidae diperoleh parasitoid Ichneumunidae dengan tingkat parasitasinya adalah 13,3%.
Kelompok empat melakukan pengamatan pada tanaman jambu biji dengan inangnya adalah Atellabidae diperoleh parasitoid yang muncul adalah Thipiidae dengan parasitasinya adalah 13,1% dan sifat parasitoidnya adalah soliter.
Kelompok lima melakukan pengamatan padsa tanaman pisang dengan larva Erionota thrax diperoleh parasitoid yang muncul adalah Chaladidae, Brachonidae, pengurai dermaptera, dengan parasitasnya adalah 25%.
Pada kelompok enam melakukan pengamatan pada tanaman belimbing dengan larva Bactrocera sp. Dengan parasitoid yang muncul adalah Brachonidae, Tipulidae, dan Tephritidae dengan parasitasinya adalah 10%.
Terakhir adalah kelompok tujuh. Pada keompok ini tidak terlihat adanya inang yang terparasit. Hal ini terjadi karena lingkungan yang kurang mendukung parasitoid untuk masuk pada tumbuh inang.
BAB IV
KESIMPULAN
Kisaran inang parasitoid adalah semua jenis inang yang diserang sehingga parasitoid berhasil memperoleh keturunannya. parasitoid mempunyai beberapa istilah yaitu, generalis (polifagus), dan spesialis (oligofagus atau monofagus). Menurut pergerakannya, parasitoid dapat bersifat soliter atau gregarious. Pada masing-masing inang memiliki tingkat parasitasi yang berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA
[Anonim] file:///E:/Musuh Alami pada Serangga « Hadianiarrahmi’s Blog.htm (04 Mei 2010)
[Anonim] http://flickr.com/photos/37836402@N00/449612065/ (03 Mei 2010).
[Anonim] http://www.sbnature.org/collections/invert/entom/COP/COPwasps.php (04 Mei 2010).
[Anonim] file:///E:/Menggunakan Serangga Pemangsa dan parasitoid sebagai Pengendalian Hama « CARI ILMU ONLINE BORNEO.htm (04 mei 2010).
LAPORAN PRAKTIKUM MINGGU KE – 5
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
PERCOBAAN KISARAN INANG
Disusun oleh:
Fildzah Jamalina (A34080051)
Dosen pengajar :
Dr.Ir.Nina Maryana,Msc.
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
BAB I
PENDAHULUAN
- 1. Latar Belakang
Hama adalah makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar penyakit, dan pengganggu semua sumber daya yang dibutuhkan manusia. Definisi hama bersifat relatif dan sangat antroposentrik berdasarkan pada estetika, ekonomi, dan kesejahteraan pribadi yang dibentuk oleh bias budaya dan pengalaman pribadi.
Beberapa hama dapat dibedakan berdasarkan sumberdaya yang dipengaruhinya. Hama dapat mengganggu ke indahan, menyebabkan penyakit, kenyamanan dan kenikmatan manusia. Selain itu hama juga dapat menyebabkan kematian pada manusia. Hama juga dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian ataupun kehutanan sehingga dapat menyebabkan kehilangan ekonomi.
Kisaran inang merupakan beberapa jenis tumbuhan sebagai makanan bagi suatu spesies serangga fitofag(serangga pemakan tumbuhan). Terdapat 3 macam serangga sesuai dengan kisaran inangnya yaitu: monofag, oligofag, dan polifag. Serangga monofag hidup dan makan hanya pada satu atau beberapa spesies dalam satu famili tertentu. Serangga oligofag yaitu serangga yang hidup dan makan pada berapa spesies dalam satu famili. Sedangkan serangga polifag yaitu serangga yang hidup dan makan pada beberapa spesies tumbuhan pada berbagai family.
Salah satu hama yang menyerang tongkol jagung di setiap daerah sentra maupun pengembangan adalah ulat penggerek tongkol Helicoverpa armigera. Beberapa inang yang diserang ulat penggerek tongkol jagung antara lain tomat, kedelai, kapas, tembakau, sorgum, dan masih banyak lainnya. Cara siklus hidupnya yaitu telur diletakan secara single di atas rambut jagung, setelah menetes berpindah kebagian tongkol jagung yang masih muda dan memakan langsung biji-biji jagung. Dari telur hingga stadia dewasa berupa kupu-kupu kecil berkisar 35 hari dan terbang menghisap madu dari bunga (Kalshoven. 1981).
Erionota thrax adalah salah satu hama tanaman pisang yang penting dan dikenal sebagai hama penggulung daun (bananas skipper). Kawarnura (1973) melaporkan bahwa serangan pertama hama penggulung daun pisang terjadi diperkebunan pisang Hawaii pada bulan Agustus 1973; saat ini hama tersebut telah tersebar luas dan rnenyebabkan kerusakan serta kerugian yang cukup berarti di Asia Tenggara terutama di Thailand, Malaysia, Philipina, Guam, India dan Indonesia. Kalshoven (1981) menyatakan bahwa di Indonesia hama ini banyak menyebabkan kerusakan tanaman pisang di Kawasan Timur Indonesia, terutama pada daerah-daerah yang terlindung oleh angin. Akibat serangari E. thrax pada tanarnan pisang dapat menggunduli daun tanaman sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas hasil (Berrner, 1975).
Crocidolomia binotalis merupakan salah satu jenis hama yang menimbulkan masalah penting pada pertanaman kubis. Serangga ini dikenal sebagai serangga yang memakan daun-daun muda, tetapi juga dapat menyerang daun yang agak tua dan kemudian menuju kebagian titik tumbuh sehingga bagian titik tumbuh habis, akibatnya pembentukan krop akan terhambat atau terhenti. Kerusakan yang ditimbulkannya dapat menurunkan hasil sampai 100% ( Pathax , 2001).
- 2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah agar kita dapat mengetahui kisaran inang dari beberapa larva seperti larva E. thrax, larva C. Binotalis, dan larva H. Armigera.
BAB II
BAHAN DAN METODE
- 1. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan kisaran inang ini antara lain: larva Crocidolomia binotalis (lep:Pyralidae), larva Erionota thrax (Lep.: Hesperiidae), larva Helicoverpa armigera (Lep.: Noctuidae), Daun pisang (Musaceae), Daun caisin (Cruciferae), Daun kangkung (Ipomoeaceae), Daun talas (Colocaceae), Daun brokoli (Cruciferae), Polong buncis (Fabaceae), Jagung semi/baby corn (Poaceae), Buah tomat (Solanaceae). Sedangkan alat yang diunakan yaitu Kertas alas, Kertas label, Cawan petri/ wadah plastik, Kuas kecil, dan gunting.
- 2. Metode
Metode yang digunakan pada percobaan kisaran inang yaitu, tahap pertama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat-alat yang digunakan yaitu wadah untuk perlakuan. Untuk Inang berupa daun yaitu cawan petri, sedangkan inang jagung dan buah tomat digunakan wadah plastik. Setelah itu gunting untuk menggunting kertas alas sesuai dengan ukuran alas wadah, yang akan dimasukan kewadah tersebut. Setelah itu kertas alas dilembabkan dengan meneteskan sedikit air dan jangan sampai terlalu basah. Kemudian daun-daun untuk percoban disiapkan masing-masing 5 cm x 5 cm sedangkan untuk jagung panjang 3 cm, untuk tomat dan kedelai satu buah.
Kemudian bahan-bahan yang telah disiapkan seperti tongkol jagung, daun pisang,daun talas,daun kangkung, daun ceisin buah tomat dan buncis tersebut di letakan kedalam wadah masing-masing sesuai dengan yang telah ditentukan, satu wadah di isi dengan satu/ buah / polong. Dalam percobaan ini ada tiga perlakuan, yaitu: Perlakuan pertama dengan larva Helicoverpa armigera dengan diberikan inang tongkol jaguntg semi, buah tomat , dan buncis. Kemudian perlakuan kedua dengan larva Erionota thrax dengan diberikan inang daun pisang, daun kangkung, dan daun talas. Sedangkan perlakuan terakhir dengan menggunakan larva Crocidolomia binotalis dengan diberikan inang tongkol daun ceisin, daun brokoli, dan daun talas. Setelah semua larva dimasukan dalam wadah dan wadah tersebut ditutup, kemudian larva tersebut diamati selama selama 24 jam. Lalu diamati apakah daun yang diberikan tersebut dimakan atau tidak,dan hitung dalam persen jumlah yang dimakan dalam setiap ukuran. Setelah itu dibuat kelompok serangga monofag, oligofag, dan polifag.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
- 1. Hasil Pengamatan Data Keseluruhan
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Jagung semi | Dimakan | 25 |
| Tomat | Tidak dimakan | 10 | |
| Buncis | Dimakan | 13 | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | 33 |
| Daun kubis | Dimakan | 20 | |
| Daun talas | Tidak dimakan | - | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | 100 |
| Daun kangkung | Dimakan | 30 | |
| Daun talas | Dimakan | 10 |
Gambar Pengamatan
• E. thrax
Daun pisang Daun kangkung Daun talas
• C. binotalis
Daun Caisin Daun Talas Daun Brokoli
• H. armigera
Buah Tomat Tongkol jagung Buncis
- 2. Pembahasan
Serangga membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya dan bereproduksi dengan baik. Untuk itu serangga memakan berbagai macam tanaman baik sayuran, buah-buahan, daun, akar, batang sampai serangga yang memakan serangga lain yang di sebut predator. Dalam percobaan kali ini yang akan di bahas adalah serangga fitofag yaitu serangga pemakan tumbuhan, dan tumbuhan yang dijadikan sebagai sumber makanan oleh serangga fitofag disebut tumbuhan inang. Tanaman inang tersebut merupakan inang yang cocok bagi kehidupannya. Adapun pengelompokan serangga fitofag berdasarkan kisaran inangnya dibagi menjadi tiga kelompok yaitu, kelompok serangga monofag (hidup dan makan hanya pada satu atau beberapa spesies tumbuhan dan family tertentu), serangga oligofag (hidup dan makan pada sejumlah spesies tumbuhan dari satu family), dan yang terakhir adalah serangga kelompok oligofag (hidup dan makan pada banyak spesies tumbuhan dari berbagai family).
Pada percobaan pertama dari data semua kelompok bahwa pada larva Helicoverpa armigera ada tiga bahan yang akan diujikan yaitu buah tomat (family : Solanaceae), jagung (Famili : Poaceae), dan pada buncis (Famili : Leguminoceae). Untuh buah tomat larva ini mengonsumsi sebesar 8,57%, sedangkan untuk buncis 23,57%, dan untuk jagung semi sebesar 43,57%. Dapat diketahui sesuai dengan hasil yang diperoleh bahwa larva Helicoverpa armigera termasuk srangga kelompok serangga Polifag yaitu serangga yang hidup dan makannya pada banyak spesies dari beberpa family.
Percobaan kedua yaitu menggunakan larva Erionota thrax yang diujicobakan pada daun kankung (Famili : Ipomoeaceae), daun talas (Famili : Colocaceae), dan pada daun pisang (Famili : Musaceae). Pada daun kangkung larva ini mengonsumsi sebesar 26,43%, pada daun talas sebesar 2,86%, sedangkan pada daun pisang sebesar 54,28%. Dari percobaan tersebut telah diketahui bahwa larva Erionota thrax adalah jenis serangga yang termasuk kelompok Monofag yaitu serangga yang hidup dan makannya hanya pada satu atau beberapa spesies tumbuhan dari family tertentu.
Dan pada percobaan terakhir yaitu menggunakan larva Crocidolomia binotalis yang diujicobakan pada daun kubis (Famili : Cruciferae), daun ceisin (Famili : Cruciferae), dan daun daun talas (Famili : Colocaceae). Pada daun brokoli larva ini mengkonsumsi sebesar 35,28%, pada daun ceisin sebesar 10%, dan pada daunt alas sebesar 0%. Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa larva Crocidolomia binotalis termasuk kedalam kelompok Oligofag yaitu serangga yang makan dan hidupnya pada sejumlah spesies tumbuhan dari satu family.
BAB IV
KESIMPULAN
Pada percobaan ini kita dapat mengetahui bahwa Erionota thrax adalah larva sebagai kelompok Monofag, yang selalu terlihat di tanaman pisang dan larva ini juga dikenal ebagai ulat penggulung. Sedangkan pada larva Helicoverpa armigera telah diketahui sering menyerang tanaman tongkol jagung muda sehingga dikelompokan sebagai serangga Polifag. Dan yang terakhir adalah larva Crocidolomia binotalis yang termasuk kedalam kelompok serangga Oligofag karena larva ini selalu menyerang tanaman dari family Cruciverae.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, George N. 1988. Plant Pathology. Gainesville : Academic Press, Inc.
[Anonim]. http://digilib.biologi.lipi.go.id/view.html?idm=16161 (15 April 2010)
[Anonim].http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/agrosains/sergn_ulat_gerek_tongk_sarwono.pdf (15 April 2010)
LAMPIRAN
Data Kelompok 1
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 20 |
| Tomat | Tidak dimakan | - | |
| Buncis | Tidak dimakan | - | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | 15 |
| Daun kubis | Dimakan | 5 | |
| Daun talas | Tidak dimakan | - | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | 90 |
| Daun kangkung | Dimakan | 10 | |
| Daun talas | Dimakan | 10 |
Data Kelompok 2
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 1 |
| Tomat | Tidak dimakan | 1 | |
| Buncis | Tidak dimakan | 70 | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | 10 |
| Daun kubis | Dimakan | 25 | |
| Daun talas | Tidak dimakan | 1 | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | 100 |
| Daun kangkung | Dimakan | 30 | |
| Daun talas | Dimakan | 3 |
Data Kelompok 3
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 25 |
| Tomat | Tidak dimakan | - | |
| Buncis | Tidak dimakan | 13 | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | 33 |
| Daun kubis | Dimakan | 20 | |
| Daun talas | Tidak dimakan | - | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | 100 |
| Daun kangkung | Dimakan | 30 | |
| Daun talas | Dimakan | 10 |
Data Kelompok 4
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 60 |
| Tomat | Tidak dimakan | 5 | |
| Buncis | Tidak dimakan | 40 | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | 35 |
| Daun kubis | Dimakan | 10 | |
| Daun talas | Tidak dimakan | - | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | 100 |
| Daun kangkung | Dimakan | 15 | |
| Daun talas | Dimakan | 0 |
Data Kelompok 5
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 100 |
| Tomat | Tidak dimakan | - | |
| Buncis | Tidak dimakan | 50 | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | - |
| Daun kubis | Dimakan | - | |
| Daun talas | Tidak dimakan | - | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | 90 |
| Daun kangkung | Dimakan | 40 | |
| Daun talas | Dimakan | 80 |
Data Kelompok 6
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 56 |
| Tomat | Tidak dimakan | 6 | |
| Buncis | Tidak dimakan | - | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | 42 |
| Daun kubis | Dimakan | - | |
| Daun talas | Tidak dimakan | - | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | - |
| Daun kangkung | Dimakan | 8 | |
| Daun talas | Dimakan | 4 |
Data Kelompok 7
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 70 |
| Tomat | Tidak dimakan | 5 | |
| Buncis | Tidak dimakan | 95 | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | 30 |
| Daun kubis | Dimakan | 3 | |
| Daun talas | Tidak dimakan | - | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | 91 |
| Daun kangkung | Dimakan | 1 | |
| Daun talas | Dimakan | - |
Data Kelompok 8
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 70 |
| Tomat | Tidak dimakan | 5 | |
| Buncis | Tidak dimakan | 95 | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | 40 |
| Daun kubis | Dimakan | 2 | |
| Daun talas | Tidak dimakan | - | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | 40 |
| Daun kangkung | Dimakan | 12 | |
| Daun talas | Dimakan | - |
Data Kelompok 9
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 10 |
| Tomat | Tidak dimakan | 5 | |
| Buncis | Tidak dimakan | 10 | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | 70 |
| Daun kubis | Dimakan | 15 | |
| Daun talas | Tidak dimakan | 3 | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | - |
| Daun kangkung | Dimakan | 20 | |
| Daun talas | Dimakan | 2 |
Data Kelompok 10
| Serangga | Pakan | Dimakan/
Tidak Dimakan |
Luas/Volume Pakan yang Dikonsumsi (%) |
| Helicoverpa armigera | Baby corn | Dimakan | 60 |
| Tomat | Tidak dimakan | 17 | |
| Buncis | Tidak dimakan | 12 | |
| C. binotalis | Daun caisin | Dimakan | - |
| Daun kubis | Dimakan | 22 | |
| Daun talas | Tidak dimakan | - | |
| Erionota thrax | Daun pisang | Dimakan | 65 |
| Daun kangkung | Dimakan | - | |
| Daun talas | Dimakan | 65 |